Kenapa Aku Pergi ke Hutan

Henry David Thoreau Henry David Thoreau (1817-1862) merupakan seorang esais, dosen, dan moralis, yang lahir di Concord, Massachusetts. Karyanya yang paling dikenal adalah Walden (1854), yang tumbuh dari jurnal kesendiriannya di sebuah pondok di tepi danau Walden, dekat Concord. Dalam

Continue Reading →

Rapsodi disepoi Malam

Tengah malam. Sepanjang bentangan jalan Bertahan pada sintesis bulan Berbisik mantra-mantra bulan Mengaburkan berlantai-lantai ingatan Dan segala relasinya yang jelas Segala memisah, mempertegas diri Setiap lampu jalan yang kulalui Biarpet seperti sebuah drum fatalistis, Dan melewati angkasa gelap Tengah malam

Continue Reading →

Lukisan kematian Wang-Fo

Pohon Prem tua; seutas tali yang melingkari lehermu sebuah bangku yang kau hadapkan pada matahari terbenam, dan arakan awan pergantian musim yang melintasi kepalamu kulihat pertanda kematian membuatmu menyaru seorang putri yang kehilangan gaun kehidupan raut wajah yang layu oleh

Continue Reading →

XXVIII - Kejadian Sesungguhnya

                                                                                                                                                   —Pablo NerudaJika Kota New York bersinar bagaikan emasdan disana terdapat bangunan dengan lima ribu bar.kutuliskan disini bahwasanya semua itu dibuatdari peluh kebun tebu:perkebunan pisang adalah neraka hijausupaya orang-orang bisa minum-minum dan menari di New York.Ketika lima ribu meterorang-orang Chile

Continue Reading →

Pelayaran Terakhir

  Karena hidup dengan sendirinya memilih kita untuk menjadi yang mengenang atau yang terkenang Angin di buritan yang menuntun kepergian dari kehidupan, berlayarlah kitaKe laut senja yang tenggelam di tengah lautan,  dengan burung camar di kiri kanan kitaSedang lilin di

Continue Reading →

Buat Alin

Ketika pertama kali menatapmu, kulihat cahaya senja berpendar dari tengah laut. Lalu fragmen-fragmen cerita kita dimainkan debur ombak yang menggulung pasir dan bebatuan. Kulihat kita berbaring memandang langit jingga itu tanpa sepatah kata. Debur ombak, suara camar, dan lambaian pohon-pohon

Continue Reading →

Empat Nyala Api Menjelang Kematian

                                                                                                                                         --H.C Andersen Malam di ujung tahun; dingin terakhir Angin bersiulan di lubang dinding kamar selepas aku pergi Langkahku mulai memasuki gang dan salju-salju membeku di telapak kakiku  oleh rasa lapar Kunang-kunang bertebangan di kedua mataku Aku terus berjalan, dan

Continue Reading →