—Pablo Neruda

Jika Kota New York bersinar bagaikan emas
dan disana terdapat bangunan dengan lima ribu bar.
kutuliskan disini bahwasanya semua itu dibuat
dari peluh kebun tebu:
perkebunan pisang adalah neraka hijau
supaya orang-orang bisa minum-minum dan menari di New York.
Ketika lima ribu meter
orang-orang Chile meludahkan darah
untuk mengekspor tembaga ke New York
orang-orang Bolivia rubuh dalam lapar
mencungkili pertambangan timah
meruntuhkan  tembok-tembok Andes
dan dari akar-akar Orinoco
berlian berhamburan di lumpur
Melalui tanah curian Panama.
melalui air curian. Kapal-kapal berlayar
ke New York dengan minyak tanah kami.
serta bersama curian barang tambang kami
yang dengan penuh takzim
pemimpin hiasan kami serahkan ke mereka.
Gula membangun tembok-tembok.
Orang-orang Chile menitrasi kota-kota.
Kopi Brazil membeli ranjang-ranjang tidur.
Paraguay memberi mereka universitas-universitas
dari Kolumbia mereka menerima zamrud.
sementara dari Puerto Rico. Pulau “sekutu”
itu. Para prajurit pergi ke medan perang
(mereka berjuang dengan cara yang sama
Amerika Utara memasok senjata
Puerto Rico memberikan darah mereka).



*Diterjemahkan secara bebas dari buku puisi Pablo Neruda "Song Of Protest", yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dari bahasa aslinya oleh Miguel Algarin di tahun 1976.
**Gambar diambil dari http://www.fazzino.com/new-york-city-pop-art-gallery/fazzino-cityscape-art-new-york-bright-lights-big-city.jpg



 
Karena hidup dengan sendirinya memilih kita untuk menjadi yang mengenang atau yang terkenang
Angin di buritan yang menuntun kepergian dari kehidupan, berlayarlah kita
Ke laut senja yang tenggelam di tengah lautan,  dengan burung camar di kiri kanan kita
Sedang lilin di ujung perahu menerangi gelap yang merapat ke sisi kita
Dan koin pengantar di mulut kita

Karena hidup dengan sendirinya memilih kita untuk menjadi yang mengenang atau yang terkenang

Datanglah Kharon, berdirilah di buritan perahu kami
Antarkan kepulangan kami pada sunyi dan kehampaan
Melewati langit merah sungai Stynx
Melewati beribu kepedihan kami yang mengalir di sungai Acheron
Datanglah Kharon, Datanglah

Karena hidup dengan sendirinya memilih kita untuk menjadi yang mengenang atau terkenang

Dengan deru debur ombak; laut tanpa ujung; dan ketiadaan tanpa batas
Kematian akan selalu kami syukuri
Seperti rilikui yang ditinggalkan moyang kami
Meski ombak kenangan kami akan selalu membentur batu karang


2016
Ketika pertama kali menatapmu, kulihat cahaya senja berpendar dari tengah laut. Lalu fragmen-fragmen cerita kita dimainkan debur ombak yang menggulung pasir dan bebatuan. Kulihat kita berbaring memandang langit jingga itu tanpa sepatah kata. Debur ombak, suara camar, dan lambaian pohon-pohon kelapa mengelu-elukan kau. Kudengar pula nafasmu menyambung nafasku. Dan tautan nafas kitalah yang melepas perahu nelayan untuk berlayar ke laut lepas. Beserta diri kita. Lin, semisal kau cemaskan laut yang sedemikian luas, cukup kau tatap aku dan temukan daratan kecil buat kau berlabuh disana.
 
Disenyummu, Lin, kutemukan tempat tidur untuk menanam mimpi-mimpi paling muskil sekalipun. Aku sang petani mimpi dan senyummu adalah lingkup yang merawat semuanya. Hingga nanti dan setelah musim panen tiba, tetaplah kau setia menunggu mimpi untuk menjadi kenyataan yang siap dipetik. Karena aku selalu percaya hanya ada satu musim di setiap tawamu. Untuk itu, meski hanya mimpi yang dapat kupercayakan padamu, simpan dan rawatlah, karena mereka adalah sebagian diriku.

Lin, kau mesti tahu gerimis yang mengantarkanmu sore itu datang dari mimpi masa laluku. Kusimpan gerimis itu, hingga kini reda dan kau pun berdiri dihadapanku. Lembayung senja yang mengantarkanmu pun tak kan salah menuturkan gerimis. Cukupilah dengan percaya apa yang dituturkan gerimis kepada kita.

Pada suatu masa nanti, gerimis pula-lah yang akan mempertemukan kita kembali.


2015 
                                                                                                                                         --H.C Andersen



Malam di ujung tahun; dingin terakhir
Angin bersiulan di lubang dinding kamar selepas aku pergi
Langkahku mulai memasuki gang dan salju-salju membeku di telapak kakiku
 oleh rasa lapar
Kunang-kunang bertebangan di kedua mataku
Aku terus berjalan, dan salju masih berjatuhan

Sesampaiku di ujung gang, jalan-jalan semakin menikam
Para gelandangan memainkan gigil di gigi mereka
Seakan gigi-gigi mereka adalah tuts piano yang melengkingkan kesakitan
Dan angin adalah pisau kecil yang menyanyat tulang
lalu aku, menyalakan nyala api pertama

*
Nyala pertama menumbuhkan asa dalam ketiadaan diriku
                                                                                 dalam mimpiku
tungku perapian, kursi usia tua, jam usia, serta kaus kaki dengan lubang mata
aku menunggui malam hingga sesampainya di usia senja
dan semuanya pun padam, dalam gelap tiada

**
Di nyala kedua, sebuah drama dimainkan
Seorang putri salju terbaring dalam rindu
Hatinya konon bertebaran menjelma salju
Dan seorang pangeran berdiri di depan pintu
Menjulurkan lidahnya untuk merasakan dinginya
                                                                               Rindu
Lalu salju pun meluber dalam lidah sendu
Tirai panggungpun menutup kisah sendu itu, begitu pula apiku

***
Pohon natal, seribu lilin, debu-debu putih yang membakar ingatan
Nyala ketiga serupa lelatu keluar dari jendela rumah-rumah
Dan aku masih terduduk di seberang trotoar
Merekayasa setiap keriangan yang terlihat di rumah-rumah
Seakan aku ikut didalamnya
Namun api segera membakar jariku dan aku tersadar ada jarak yang asing
Antara nestapa dan kebahagiaan yang tak dapat kulintasi

****
Seseorang sedang sekarat
Matanya mengaburkan kenyataan yang terlihat, menjadi sebuah remang
Dalam rumah yang diselimuti kegelapan
Lalu tiba-tiba dari pintu depan, cahaya yang begitu terang menyingkap gelap
Uluran tangan menariknya ke, kematian. Begitulah
Di nyala keempat, setiap bintang yang jatuh, sebuah jiwa akan naik ke langit malam.

2015



*Gambar diambil dari http://www.worksoppriory.info/blogs/y6/wp-content/uploads/sites/9/2015/01/JohnstoneTheLittleMatchGirl_08a.jpg
Ubud Writer And Reader Festival this year held from October 28 -  November 1. The event celebrate the theme 17,000 Islands of Imagination in which it's also become the theme for Frankfurt Book Fair (to be held mid-October) for this year’s Guest of Honour Nation, Indonesia. For some of you who do not familiar about this event, you can play the video above.


Dalam dunia kesusteraan, khususnya khazanah perpuisian, seringkali disebutkan mengenai penyair-penyair yang sudah “mapan” menemukan cara berbicara mereka setelah perjuangan dan pelatihan bertahun-tahun. Semisal, ketika kita membaca juvenilia—puisi paling mula dari Sylvia Plath, kita akan mendiskreditkannya karena, seperti kebayakan kritikus sastra utarakan: “Dia belum menemukan cara berbicaranya sendiri.” Kita juga akan menemukan pendapat yang sama ketika membaca karya-karya awal dari penyair seperti Theodore Roetgke dan James Wright yang mana, seperti Plath, menulis puisi formal sebelum beralih ke puisi bebas selama masa kepenyairan mereka. Pada kenyataannya, lebih sulit “bersuara” alami dalam berpuisi jika kita memakai sajak dan matra, yang dibuat dengan sembarangan, dapat bersuara artificial atau ornamental. Namun, hal tersebut tidaklah terjadi pada kasus Plath, Roethke dan Wright. Ketika mereka matang sebagai penyair, mereka mulai menulis tentang orang-orang dan topik yang sepenuhnya yang ada disekitar mereka, untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran yang kompleks.

Dalam bukunya—The Art and Craft of Poetry, Michael Bugeja lewat pertemuannya dengan penyair Amerika—Bruce Weigl, yang mana mempengaruhi proses kepenyairannya di kemudian hari, menyarankan kepada penyair muda untuk; Menggunakan suara yang sesuai.

Semisal saja, saya duduk di dalam kelas sebuah sekolah. Seorang guru, lalu, mulai menyampaikan materi pelajaran. Pada saat sang guru mulai memasuki kelas, kita, disadari ataupun tidak, sudah mengenakan topeng seorang murid. Dan jika guru tersebut ternyata adalah ibu saya sendiri, ketika pulang ke rumah saya pun akan berganti topeng seorang anak, begitupun sang guru. Inilah, topeng atau peran yang kita mainkan setiap harinya, mempengaruhi suara yang akan kita gunakan kepada orang-orang disekitar kita di tempat/situasi tertentu.

            Seseorang, misalkan saja, setiap harinya akan mengenakan beberpa topeng:

·         6:30 Kau mesti membangunkan suamimu untuk kerja—sayangnya ia orang yang temperamen. Kau akan menyentuhnya dengan lembut di pundak dan disaat itu juga kau sudah mengenakan topeng seorang istri. Kau lalu akan berbisik lembut padanya: “ayo bangun, sekarang, sayang. Waktunya untuk bangun.” Kau memerankan peran seorang istri yang bertanggung jawab dank au pun menggunakan “suara” yang sesuai dif ajar di tempat tidur.

Lebih lanjut, Michael Burgeja menyarankan pada penyair muda untuk melatih ketajaman “telinga” nya terhadap puisi-puisi kontemporer maupun klasik. Berikut akan saya kutipkan salah satu contoh yang diberikan Michael Bugeja dalam hal yang sudah saya utarakan sebelumnya;


TH E QUEEN O F HEARTS
By Christina Rossetti

How comes it, Flora, that, whenever we
Play cards together, you invariably,

However the pack parts,
Still hold the Queen of Hearts?

(Voice: suspicious, sly, questioning)

BEAT! BEAT! DRUMS !
By Walt Whitman

Beat! beat! drums! blow! bugles! blow!
Through the windows — through doors — burst like a ruthless force,
Into the solemn church, and scatter the congregation,
Into the school where the scholar is studying; . . .
(Voice: loud, oracular, commanding)

TH E VOICE
By Thomas Hardy

Woman much missed, how you call to me , call to me,
Saying that now you are not as you were
Whe n you had changed from the one who was all to me,
But as at first, when our day was fair.
(Voice: plaintive, repetitive, sad)

Namun, penilaian ini tentu saja bukan penilaian mutlak yang mesti menjadi patokan. Perbedaan interpretasi tiap pembaca tentu saja memungkinkan penilaian yang lain. Dan itu sah-sah saja. Michael Bugeja melanjutkan bahwa, yang kita butuhkan adalah mendengarkan suara yang berbeda dari setiap puisi yang kita baca. Kemudian renungkan cara bersuara penyair tersebut dan lihat apakah telah terjalin harmonisasi dengan subjek dalam puisi tersebut.

Untuk mencoba apa yang telah dijelaskan Michael Bugeja, saya akan mencoba mengaplikasikan teknik penemuan suara dalam puisi Prabu—Perahu Napas.

Perahu Napas

lelaki duduk memangku laut tiada

selain menyeberangi nasib di kejauhan

bersama angin. . .

Suara (tenang, pengharapan, perenungan)


…angin utara yang berhasil turun

membawa perasan jantung perempuan bukit

menuju arah pantai

Suara (kehilangan, penemuan kembali)



sendiri ia berbisik

merangkum masalalu

melipat bangku kosong dan cerita hantu

sementara waktu perlahan karam

merapikan angan-angan

Suara (perenungan,kesunyian,kesendirian)


bersamanya perahu napas berlayar

melampaui tubuh dan pikiran …

Suara (titik balik,penemuan kembali)


…batas diam antara lubuk dan jantung laut

yang pecah membawa ia pulang

ke tugur masa depan

Suara (penemuan kembali)


2014






*Disampaikan dalam Ngobrol Pintar (NgoPi) komunitas LACIKATA pada tanggal 26 September 2015
                                                                       ….
Death does not come when a body is too exhausted to live
Death comes, because the brilliance inside of us can only be contained for so long.
We do not die. We pass on, pass on the life burning through our throats
                                                                        .... .
Michael Lee̶ ─Pass On


Four years ago, in the month of May, I never thought that he will pass away in the age of eighty. He looks still healthy in his age, however. Walking to the farm every morning, he brought his heavy hoe with him. He used to hoe the farm and plant some vegetables plan there. He had often said to me: It’s always peaceful to be here, I can hear the music of the wind sounds like Tayub**, and I had pity on him, for these days it was something rare to see that the play of that Javanese culture. He usually sat under the tree which is in the edge of the river when the sun got higher.  From there, he could keep an eye on his farm. It was a summer season where a flock of sparrow birds attack the farm intensively. He will never let any bird to touch her plant. It was always I who sent him his lunch. I usually brought a fishing rod with me. He had taught me a great deal about fishing.

In the 22th of May, at noon, as usual, I walked to his farm to bring his lunch. I saw him sat under the tree. But there was something uncanny about him that time. When I called his name, he didn’t answer. I thought he was sleeping. As I approached his body, I saw his face was very grey and massive. There he lay, sleeping like he wouldn’t wake up anymore, I thought. For some moment, I let him sleep. Then, when I thought that he had slept long enough, I tried to wake him up. Softly I whispered in his ear. But he didn’t give an answer nor did he make any movement.
It was the third times I whispered in his ear. But, still, there was no answer or a single movement. I started to shake his body, again, and again. But, still, there was no sign of life. If he was dead, I thought, I wouldn’t feel nothing when I touch the artery of his neck, for I knew that when someone had dead, the beat of his heart would stop. Then I touched his front neck, trying to feel his heart beat. No, I wouldn’t say he was exactly . . . but there was something queer . . . at that time. I can’t feel any beat at all. Panicky, I left her body and I run as fast as I can to my house.
I returned with some men and women with me. One of them is a doctor who lived next to my house. We let the doctor to check at him.

The doctor looked at me for a while. I felt that his eyes were examining me. After looking at me, the doctor said to me “Well, the breath already went out of him. He had a beautiful death, God be praised”.
After I heard what the doctor had said, I felt my soul was rejecting the fact. He was not dead! He just looked as if he was asleep, he just looked that peaceful. But I can’t do something to change the reality. They brought his corpse to the mourning house.
 In the evening my father took me with him to visit the house of mourning. It was after sunset; but the sky looked darker than usual. My father and I entered the house, then. We walked quietly towards the open door of the dead-room. A silence took possession of the little room before all the mourners prayed for him.
That was unforgettable moment in my life, to see things like that. 




*To the memory of my grandfather
** Tayub or tayuban is typical Javanese traditional arts, especially in Central Java and East Java. Tayub is a term used by the Javanese in the art of dance accompaniment with one unit of Javanese gamelan music of percussion, kenong, kempol, suwukan gongs, trumpets, drums and angklung. In addition, the dancers Tayub usually also hummed songs or poems that contain Java as couplets wise counsels, are like the advice to foster home as well.. This art is very popular among the Java community because it looks attractive, dynamic, aesthetic and expressive.